Selasa, 18 Juni 2013

Wacana


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian wacana

Dalam praktek berbahasa ternyata kalimat bukanlah satuan sintaksis terbesar seperti banyak orang menduganya selama ini. kalimat ternyata hanyalah unsur pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yang disebut wacana. Bukti bahwa kalimat bukan satuan terbesar dalam sintaksis banyak kita jumpai kalimat yang jika kita pisahkan dari kalimat-kalimat yang ada disekitarnya maka kalimat itu menjadi satuan yang tidak mandiri. Tidak dapat dipahami apabila kalimat tersebut berdiri sendiri.
Analisa wacana yang dalam bahasa inggris disebut text linguistics adalah analisa yang menentukan hubungan-hubungan yang terdapat antara kalimat-kalimat utuh dalam suatu teks yang utuh[1].
Banyak berbagai devinisi dari wacana, menurut Abdul Chaer wacana adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar[2]. Sebagai satuan bahasa yang lengkap maka dalam wacana terdapat konsep, gagasan, pikiran, ide yang utuh yang bisa dipahami oleh pembaca. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat  atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Lebih lanjut, Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren[3].
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan wacana adalah satuan bahasa terbesar yang disajikan secara teratur sehingga dapat membentuk suatu makna yang dapat dipahami.



B.     Alat wacana

Wacana yang baik adalah apabila wacana tersebut kohesif dan koheren. Untuk dapat membuat sebuah wacana yang baik dapat digunakan alat wacana. Alat dalam wacana dapat dibedakan menjadi gramatikal dan semantik. Berikut ini penjelasannya:
Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana, sebagai berikut[4]:
1.      Konjungsi, yakni alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan antara paragraf-paragraf.
2.      Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu.
3.      Menggunakan elipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat yang lain. dengan elipsis maka wacana tersebut akan menjadi lebih efektif.
Sedangkan alat-alat semantik yang bisa digunakan untuk membuat sebuah wacana yang kohesif dan koheren sebagai berikut:
1.      Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana tersebut.
2.      Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat dalam satu wacana.
3.      Menggunakan hubungan sebab-akibat.
4.      Menggunakan hubungan tujuan didalam isi sebuah wacana.
5.      Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana.
C.    Jenis wacana
Terdapat berbagai jenis wacana menurut sudut pandang masing-masing dari mana wacana itu dilihat. Dilihat dari penyampaian isinya maka wacana dibagi menjadi 4, yaitu[5]:
1.       Wacana narasi
Narasi adalah karangan cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur, serta latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.


2.        Wacana Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya.Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan dan fakta.Dilihat dari sifat objeknya. Wacana ini bersifat menceritakan suatu topik atau hal.
3.       Wacana Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran.wacana ini bersifat memaparkan suatu topik atau suatu hal.
4.       Wacana argumentasi
wacana argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang. Wacana ini bersifat memberi argumen atau alasan terhadap suatu hal.
Jika dilihat dari fungsi bahasa maka jenis wacana dapat dibagi menjadi[6]:
1.      Wacana ekspresif,  yaitu apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.
2.      Wacana fatis, yaitu apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan.
3.      Wacana informasional, yaitu apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.
4.      Wacana estetik, yaitu apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.
5.      Wacana direktif, yaitu apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.


D.    Ciri-ciri wacana
Terdapat banyak ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut:
1.      Satuan gramatikal
2.      Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
3.      Untaian kalimat-kalimat.
4.      Memiliki hubungan proposisi
5.      Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
6.      Memiliki hubungan koherensi
7.      Memiliki hubungan kohesi
8.      Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
9.      Bisa transaksional juga interaksional
10.  Medium bisa lisan maupun tulis
11.  Sesuai dengan konteks
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut[7]
  1. Wacana dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian tindak tutur
  2. Wacana mengungkap suatu hal (subjek)
  3. Penyajian teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya
  4. Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu
  5. Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental


[1] Verhaar, Pengentar Linguistik, (Yogyakarta: Gadjah Mada University, 1995), 104
[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka cipta,2003), h.267
[3] Syamsuddin A.R,  Studi Wacana: Teori-Analisis Pengajaran,( Bandung: FPBS IKIP Bandung, 1992), h.5
[4] Op. Cit,. h. 269
[5] Op. Cit. Abdul Chaer, h.272
[6] Kushartanti, Langkah Awal Memahami Linguistik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 91
[7] Op.Cit., Syamsyudin, h. 5

0 komentar:

Poskan Komentar

 

My Korean World Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting